Mataram, 4 Mei 2026 – Komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan kembali ditegaskan oleh UIN Mataram. Wakil Rektor II yang juga menjabat sebagai Ketua Tim SDGs/Green Campus UIN Mataram menggelar pertemuan koordinasi bersama seluruh anggota tim SDGs sebagai tindak lanjut pasca keikutsertaan dalam Lokakarya UI GreenMetric di Yogyakarta.
Pertemuan yang berlangsung di Ruang Wakil Rektor 2 UIN Mataram tersebut difokuskan pada penyusunan langkah strategis dan rencana aksi konkret dalam mengimplementasikan program green campus secara lebih terarah, terukur, dan berdampak.
Dalam arahannya, Wakil Rektor II menekankan bahwa hasil lokakarya tidak boleh berhenti pada tataran wacana, tetapi harus diterjemahkan menjadi program nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan lingkungan.
“Kita tidak hanya berbicara konsep, tetapi harus mampu menghadirkan aksi nyata. Setiap program SDGs harus memiliki orientasi yang jelas, baik dari sisi output maupun outcome, sehingga UIN Mataram dapat menjadi yang terdepan dalam pengembangan green campus,” tegasnya.
Salah satu poin penting yang disampaikan adalah penguatan program desa binaan Green Campus UIN Mataram sebagai laboratorium sosial implementasi SDGs. Desa binaan ini diharapkan menjadi model penerapan prinsip keberlanjutan yang terintegrasi antara aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Selain itu, Wakil Rektor II juga mendorong peningkatan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang secara spesifik mengusung tema implementasi SDGs, seperti pengelolaan sampah berbasis masyarakat, konservasi air, energi terbarukan, hingga edukasi lingkungan berbasis nilai-nilai keislaman.
Dalam pertemuan tersebut, seluruh anggota tim diingatkan agar setiap program yang dirancang tidak hanya berorientasi pada kegiatan semata, tetapi juga menghasilkan dampak nyata yang dapat diukur.
Pendekatan ini diharapkan mampu:
meningkatkan kualitas program SDGs di lingkungan kampus,
memperkuat posisi UIN Mataram dalam pemeringkatan GreenMetric,
serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat sekitar.
Tidak kalah penting, Wakil Rektor II juga menekankan urgensi implementasi ekoteologi sebagai landasan utama dalam pengembangan green campus. Menurutnya, nilai-nilai keislaman harus menjadi ruh dalam setiap program keberlanjutan yang dijalankan.
“Green campus bukan hanya tentang lingkungan fisik, tetapi juga tentang kesadaran spiritual. Ekoteologi harus hadir sebagai fondasi, agar setiap langkah yang kita lakukan bernilai ibadah dan berdampak luas,” ungkapnya.
Melalui penguatan ekoteologi, diharapkan seluruh sivitas akademika memiliki kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.
Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi Tim SDGs UIN Mataram untuk menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan green campus yang lebih progresif dan berkelanjutan. Dengan sinergi yang kuat dan komitmen bersama, UIN Mataram optimistis dapat menjadi pelopor kampus hijau berbasis nilai-nilai keislaman di tingkat nasional.
Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa UIN Mataram tidak hanya berkomitmen pada aspek akademik, tetapi juga mengambil peran strategis dalam menjawab tantangan global melalui implementasi SDGs yang berdampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat. red